This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, 18 August 2013

Geo-Economics: New Perspectives for Indonesian Business

In a world where physical war and territorial colonization are no longer a threat, countries should still maintain their global power and ensure their sovereignty is not jeopardized by other nations. Many countries, such as China and Germany, manage to maintain their power by using international trade.

And where is Indonesia? Indonesia is a country that is still dependent on outsourced products. China’s products, for example, have dominated our market for many years. We even import commodities such as rice from Cambodia and soybeans from the US meanwhile we have the potential of producing ourselves.

This dependency, this economic weakness, provides inroads to other nations to impose their interests in our country. Japan does not need to colonize Indonesia with military power like in the past; it instead saturates our market (and indeed many other countries in the world) with its automotive products. In order to exert stronger political capital in international relations, Indonesia’s geopolitics should actively involve the economic sector in foreign policy.

Gone are the days when we oppress other countries with guns or military attacks. We can simply use the power of the national economy. This is what we call geo-economics, which means that to be strong and influential in this world, we must have the ability to create the products needed by the world — at affordable and competitive prices. Through this approach, we can make other countries depend on our products and then influence them politically.

In this age of geo-economics, where do our businesses stand? In the view of businesspeople — what does Indonesia look like? Currently, they treat Indonesia as nothing but a place for buying, selling or trading products and exploiting natural resources. In the geo-economic sphere, we should see Indonesia as place of production where we can provide a plethora of products for other countries.

Indonesia as a state should maximize our agricultural production since our land characteristics suit this sector — and not only to fulfill our domestic needs but on a global scale.

We should take an active part in the production of the real sector, such as manufacturing and services to counterbalance the practices of foreign geo-economics. Thus, there is a need for more room for industry to be built and infrastructure to be revitalized. But, is it that easy? What factors are hampering our businesspeople?

We recognize that our businesspeople cannot work alone — they need the government’s support, for example, the creation of better infrastructure by the Public Works Ministry is crucial. Both the government and businesses have to work harder — and together. This understanding of geo-economics will not only lead to profit but also benefit our global power.

This new perspective of geoeconomic is the solution for our geopolitical problems. (rt)

http://www.thejakartapost.com/news/2012/09/25/new-perspective-indonesian-business.html

Saturday, 17 August 2013

Apa Mimpimu untuk Indonesia?

Dirgahayu Indonesia!
Sungguh, aku bersyukur atas kemerdekaan ini.
Berterimakasih atas perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu.
Dan selalu bertekad untuk bisa berkontribusi.
Aku punya mimpi.
Mimpi membangun Negeri ini.
Tapi aku tak tahu apa yang harus ku perbuat.
Atau apakah yang kuperbuat bisa bermanfaat bagi bangsa.
Aku masih mencari.
Tapi Aku tak akan berhenti bermimpi.
Karena disana ada harapan.
Ada doa dan cita-cita.
Ada cambuk semangat yang menjadi alasan untuk bergerak.
Yang akan terus membangunkanku untuk tidak sekedar tidur.
Tapi juga bertindak nyata.
Mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.


Halo Geo!
Di kesempatan HUT RI ini, Plato akan share poster-poster inspiratif anak Geo tentang mimpi untuk Indonesia.

1. "Bhinneka Tunggal Ika" oleh Mario, Geo 2012
Bangsa Indonesia memiliki berbagai macam keragaman. Dengan keragaman yang kita miliki, kita harus lebih mempersatukan Bangsa Indonesia, bukanlah seperti permainan puzzle yang bisa dicopot dan ditaruh kembali. Tetapi, Indonesia Satu!


Yuk, dukung Mario dengan like posternya di link berikut: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=169677419882300&set=a.169677269882315.1073741827.169674253215950&type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-prn1%2F533968_169677419882300_1929860334_n.jpg&size=679%2C960



2. "Sekadar Mimpi Indah" oleh Salman Al Farisi, Geo 2012 
Menggambarkan seorang anak perempuan yang polos dan lugu sedang bermimpi mengenai kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik mimpi-mimpinya yang sederhana namun harapan semua orang.



Yuk, dukung Salman dengan like posternya di link berikut: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=169679329882109&set=a.169677269882315.1073741827.169674253215950&type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-ash3%2F578942_169679329882109_131458953_n.jpg&size=680%2C960

Tuesday, 30 April 2013

In Geography, We Travel A Lot


1.       Papandayan mountain
April 2013
Mountain with 2665 meters elevation from sea surface. Located in Garut Regency, West Java.
Photo by : Abdullah Rizky

2.       Taman Mini Indonesia Indah
March 2013
Indonesian miniature that located in East Jakarta.
 Photo by : Rio Trimono

3.       Argopuro mountain
January 2013
3088 meters elevation from sea surface. Located in Hyang plateau, East Java.
Photo by : Arsiya Isrina Wenty Octisdah

4.       Gede Mountain
December 2013
2958 meters elevation from sea surface.  Located in Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, West Java.
Photo by: Sandi Chakradata

5.   Jam gadang
August 2012
One of Minangkabau Heritage that located in Bukittinggi, West Sumatera
Photo by : Fathiyya Ulfa

6. Slamet Mountain
July 2012
Mountain with 3428 meters elevation from sea surface. Located in Central Java.
Photo by : Ika Prahasti Nuriana

6.       Pangrango Mountain
June 2012
Mountain with 3019 meters elevation from sea surface. Located in Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, West Java.
Photo by : M Bayu Rizki Prayoga

7.       Candi Surowono
June 2011
Located in English Village, Pare, Kediri, East Java.
Photo by : Fathiyya Ulfa

8.       Puncak Lawang
March 2011
Plateau with 1210 meters elevation from sea surface. One of the best paragliding spot in southeast asia. Located in Agam, West Sumatera.
Photo by : Fathiyya Ulfa

9.       Carocok Beach
February 2010
One of the famous beach in Painan, West Sumatera.

Photo by : Jenny Hendri

10.   Ngarai Sianok
October 2009
One of the famous canyon in Inonesia. Located in bukittinggi, West Sumatera 
 Photo by : Ifnur Hikmah

11.   Terengganu State Museum
August 2009
One of the largest museum In Malaysia that show some artifacts and artworks of Malaysia.
Photo by : Ihsanul Mahardika

Tuesday, 23 April 2013

Bukittinggi, Tujuan Berliburmu di Liburan Semester Ini!

Selamat datang lagi di blog PLATO ya teman-teman. Kali ini kami akan membahas salah satu kota yang sangat terkenal dengan berbagai objek pariwisatanya. Ya, kota tersebut adalah Bukittinggi. Sebagian besar dari kalian pasti sudah pernah mengenalnya bukan? Bukittinggi merupakan salah satu kota paling bersejarah di Indonesia. Bagaimana tidak, kota ini pernah menjadi ibukota negara kita pada tahun 1948. Selain itu, salah satu tokoh proklamator kita yaitu Bung Hatta, juga berasal dari kota ini.

Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera, dan dikelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kota ini berada pada ketinggian 909–941 meter di atas permukaan laut, dan memiliki hawa cukup sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. Sementara itu, dari total luas wilayah kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82.8% telah diperuntukan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Selain itu, terdapat lembah yang dikenal dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75–110 m, yang di dasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang.
Oh iya, salah satu hal menarik dari Bukittinggi adalah ternyata kota ini bersaudara (sister city) dengan Seremban di Negeri Sembilan Malaysia. Rasa-rasanya belum lengkap kalau kita belum membahas objek-objek wisata apa saja yang terletak di kota Bukittinggi ini. Nah, kira-kira apa saja ya? silakan simak tulisan kami kali ini :)


1. Jam Gadang 

Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

2. Janjang Ampek Puluah

Jenjang ini dibangun pada tahun 1908 yang pada awalnya merupakan sebagai penghubung antara Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Sebagai salah satu objek wisata di Kota Bukittinggi, jenjang ini telah memberikan inspirasi kepada pencipta lagu Minang Syahrul Tarun Yusuf dengan judul lagu "Andam Oi".

3. Lubang Jepang

Lubang ini sebenarnya lebih tepat disebut terowongan (bunker) Jepang. Dibangun tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam PD II dan perang Asia Timur Raya (Dai Tora Senso) atas perintah pemerintah militer Angkatan Darat Jepang (Tentara Kedua Puluh Lima) untuk Sumatera berkedudukan di Bukittinggi dengan Komandan Tentara Pertahanan Sumatera Jend. Watanabe. Terakhir komandemen militer se Sumatera dipimpin oleh Seiko Seikikan Kakka yaitu Jend. Kabayashi, Walikota terakhir Sito Ichori. Bukittinggi dengan nama Shi Yaku Sho meliputi Kurai Limo Jorong dan juga mencakup Ngarai Sianok, Gaduik, Kapau, Ampang Gadang, Batutaba dan Bukit Batabuah. Lubang Jepang memiliki panjang sekitar 1400 m dan lebar ± 2 m. Kita dapat masuk ke Lubang Jepang ini dan dengan menelusurinya kita akan merasakan sensasi yang sangat unik. Didalamnya terdapat ruang makan, ruang minum, ruang penyiksaan, dapur dan ruang persenjataan. Pintu masuk Lubang Jepang ini terdapat dibeberapa tempat seperti  di tepi Ngarai Sianok, Taman Panorama, dan disamping Istana Bung Hatta atau Tri Arga.

4. Ngarai Sianok

Ngarai Sianok atau Lembah Pendiang merupakan suatu lembah yang indah, hijau dan subur. Didasarnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menelusuri celah-celah tebing dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Keindahan alam Ngarai Sianok mempesona, sering dijadikan bahan imajinasi para pelukis dan diabadikan oleh para wisatawan untuk diambil foto-fotonya. Ngarai Sianok terletak di pusat Kota Bukittinggi dengan panjang ± 15 km, kedalaman ± 100 m dan lebar sekitar 200 m. Pada zaman penjajahan Belanda Ngarai Sianok dikenal sebagai Kerbau Sanget karena didasar ngarai terdapat banyak kerbau liar.

5. Benteng Fort De Kock

Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Markus De Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya perang Paderi pada tahun 1821-1837. Disekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Dari lokasi wisata ini kita dapat menikmati Kota Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

6. Istana Bung Hatta

Terkenal dengan sebutan Gedung Negara Tri Arga, terletak di pusat Kota Bukittinggi tepatnya di depan taman Jam Gadang. Pada zaman penjajahan Jepang gedung ini dijadikan tempat kediaman Panglima Pertahanan Jepang (Seiko Seikikan Kakka) dan pada zaman revolusi fisik tahun 1946 menjadi Istana Wakil Presiden RI Pertama Drs. Mohammad Hatta. Sekarang gedung ini digunakan sebagai tempat seminar, lokakarya dan pertemuan tingkat nasional dan regional yang representatif serta sebagai rumah tamu negara bila berkunjung ke Bukittinggi. Arsitektur bangunan ini berciri kolonial, dengan kamar-kamar yang luas berjumlah 8 buah tetapi sekarang ditambah 12 buah.

7. Janjang Saribu

Jenjang 1000 merupakan objek wisata yang masih alami, berliku-liku menelusuri celah-celah tebing. Jenjang 1000 ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengambil air minum ke lembah Ngarai Sianok, disamping untuk berolah raga jalan kaki dengan latar belakang gunung Merapi dan Singgalang yang angun dan mempesona. Pada tempat wisata ini tersedia tempat peristirahatan (kopel) WC, kolam pancing, lokasi camping serta lapangan parkir yang luas. Disamping itu kita menyaksikan perilaku binatang liar seperti kera yang berkeliaran sambil bermain dan melompat dari dahan ke dahan dan burung-burung berkicau bernyanyi menghibur para pengunjung.

8. Jembatan Limpapeh

Sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort De Kock maka terdapat sebuah Jembatan yang bernama Jembatan Limpapeh yang dibangun dengan konstruksi beton dengan arsitektur atap yang berbentuk gonjong khas rumah adat MinangKabau. Jembatan ini berdiri di atas Jalan A. Yani dan dari sini kita dapat menyaksikan keindahan alam Bukittinggi dan keramaian Jalan A. Yani.

Nah teman-teman, bagaimana? sangat menarik bukan? Tentunya masih banyak lagi objek wisata yang dapat kalian kunjungi di Bukittinggi. Oh iya, untuk kalian yang ingin berkunjung ke Bukittinggi, kalian bisa menggunakan pesawat terbang tujuan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dengan kode penerbangan PDG di Pariaman, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan taksi ataupun travel. Bisa juga menggunakan bus antarkota antarprovinsi (dari Jakarta atau Bandung), biasanya langsung sampai kota Bukittinggi loh. Selamat liburan :) -af

_________________________________________________________________________________
sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bukittinggi
http://www.bukittinggiwisata.com/v17/

Tuesday, 9 April 2013

Teknologi Modifikasi Cuaca


            Teknologi modifikasi cuaca (TMC) adalah upaya meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan, yakni dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

            Prinsip awal teknik ini ditemukan Vincent Schaefer pada tahun 1946 yang terinspirasi dari Irving Langmuir, yang lalu disempurnakan oleh Bernard Vonnegut. Sementara di Indonesia TMC pertama kali dikaji dan diuji pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu) yang difasilitasi oleh Prof.Dr.Ing. BJ dibawah asistensi Prof.Devakul dari Royal Rainmaking Thailand.

            Umumnya teknik ini digunakan untuk mendatangkan hujan di daerah yang tengah dilanda kekeringan. Namun TMC juga dapat dilakukan untuk mencegah banjir di wilayah dengan curah hujan tinggi. Hal inilah yang menjadi tujuan penggunaan TMC untuk Jakarta. Garam disebar di Selat Sunda, di Serang, Pandeglang, atau di Laut Jawa, sehingga awan yang ada langsung dipaksa menjadi hujan di wilayah tersebut. Hal ini membuat hujan tidak terjadi di Jakarta, dan banjir pun bisa dihindari.

            TMC pertama dilaksanakan pada 26 Januari – 25 Maret 2013. Hujan diturunkan lebih dahulu di Pandeglang, dan Jakarta terhindar dari hujan deras. Garam yang digunakan adalah Perak Iodida, dibawa sebanyak 3000 karung seberat 4 ton oleh pesawat Hercules C-130 TNI-AU dan CASA 212-200. Untuk sekali operasi biaya yang dihabiskan adalah sekitar 13 milyar rupiah. Selain menggunakan pesawat, modifikasi cuaca juga dapat dilakukan dengan menggunakan flare (roket) yang menembakkan garam ke awan.
            Namun penggunaan TMC ini bukan tanpa resiko. Daerah di sekitar Jakarta, yang tidak banjir walaupun hujan lebat, akan ikut serta mengalami penurunan curah hujan. Selain itu, daerah yang menjadi tujuan diturunkan hujan mengalami peningkatan curah hujan dan berisiko terjadi banjir, seperti wilayah Serang, Banten. Jika diturunkan di tengah laut, terdapat potensi rob. Selain itu ada yang berpendapat TMC dapat mengganggu keseimbangan ekologi. Bagaimanapun, bila terdapat pengorbanan yang dibutuhkan, selama tidak terlalu ekstrem, tetap dibutuhkan karena dilakukan demi melindungi Ibu Kota Negara dari bencana. Jika Jakarta lumpuh, maka dampaknya akan terasa hingga penjuru negeri.

            TMC memang terbukti sukses mencegah hujan deras di Jakarta, dan dampak negatif yang mungkin ada baru sebatas asumsi, namun alangkah baiknya bila dana melakukan TMC ini, yang mencapai 13 milyar sekali operasi ini digunakan untuk pembangunan waduk atau kanal. Bagaimanapun juga, TMC ini hanyalah langkah jangka pendek yang harus dilakukan terus menerus. Mungkin saat ini kita merasa biaya 13 milyar termasuk murah bila dibandingkan pembuatan waduk yang mencapai triliunan rupiah. Namun sampai kapan? Akan tiba masanya ketika biaya yang digunakan untuk TMC melewati biaya untuk pembangunan waduk. TMC memang berguna, namun sebaiknya dilaksanakan hanya ketika potensi hujan terlalu besar sehingga waduk  yang telah dibuat tetap tidak akan mampu menampungnya - ST

------------------------------
[1] "Ini Syarat Agar Modifikasi Hujan Berhasil" http://www.tempo.co/read/news/2013/01/27/083457154/Ini-Syarat-agar-Modifikasi-Hujan-Jakarta-Berhasil
[2] "Berhasil, Rekayasa Kurangu Curah Hujan di Jakarta" http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/386366-berhasil--rekayasa-kurangi-curah-hujan-di-jakarta
[3] "Atasi Banjir Jakarta, BNPB dan BPPT Gelar Modifikasi Cuaca" http://bnpb.go.id/news/read/1228/bnpb-dan-bppt-gelar-operasi-teknologi-modifikasi-cuaca-untuk-atasi-banjir-jakarta
[4] "Antisipasi Banjir dan TMC" http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teknologi-modifikasi-cuaca/
[5] Kajian Kelompok Studi Geografi UI : Teknologi Modifikasi Cuaca di Jakarta; pada Senin, 3 April 2013